Selasa, April 21, 2009

Hingar bingar pesta demokrasi : memberdayakan atau memperdayakan masyarakat ?


Setelah dua pekan pesta demokrasi digelar di negeri tercinta ini, kita masih disuguhi debat-debat penuh kecurigaan yang terkesan terlalu didramatisir. Masalah DPT yang tak kunjung berhenti dipergunjingkan, masalah IT KPU yang justru semakin melorot kinerjanya, masalah stress para caleg yang tidak terpilih dan berbagai permasalahan lain yang menodai pelaksanaan pesta demokrasi kita.

Komentar-komentar dari para tokoh partai yang kalah pemilu berusaha membangun opini publik bahwa partai pemenang pemilu telah curang !...preeetttt...
siapapun yang kalah pasti akan 'mengganggu' yang menang. Tidak rela rasanya kalah kalau belum 'menggoyang' yang menang. Apalagi kalau modal yang dikeluarkan pada saat kampanye tidak kembali bahkan rugi total.
Beberapa komentar yang sangat dibuat-buat adalah tentang DPT yang seolah olah menguntungkan satu partai (pemenang) dan merugikan yang lain... preeeetttt..
Siapa yang bisa menjamin orang yang tidak masuk DPT akan memilih partai X ? Tidak ada !. Pemilu diulang !... Konyol !!, Biaya pemilu konon mencapai ratusan trilyun.. Lagi pula caleg yang sudah terlanjur masuk RSJ (bahkan ada yang sudah gantung diri) tidak akan serta merta kembali ke keadaan sedia kala. Alasan lain : menegakkan demokrasi... alasan yang cukup bagus, tapi justru demokrasi tidak akan pernah tegak jika tidak ada pihak yang cukup dewasa untuk memainkan demokrasi itu sendiri.
Cukup banyak alasan yang mengatasnamakan demokrasi, hak rakyat dan lain sebagainya. Tetapi alasan2 tersebut justru menjerumuskan masyarakat awam karena seolah-olah masyarakat telah diperas haknya oleh (sekali lagi) pemerintah. Ini yang saya lihat sebagai upaya pembodohan masyarakat oleh partai politik. Lagi pula siapa sih yang tidak pernah mengobral janji pada saat kampanye, lantas setelah duduk di senayan berkata 'situasinya lain'. Atau ada pula yang mengatakan telah memperjuangkan rakyat sementara kita disuguhi berita tentang KKN di DPR. Apakah itu bukan pembohongan rakyat.
Yang leboh parah lagi adalah adanya pernyataan untuk memboikot pilpres mendatang karena kecewa dengan DPT pil legislatif. Ini juga super konyol karena justru merekalah yang akan menghancurkan demokrasi, mementingkan kepentingan pribadi dan partai. Sementara kepentingan rakyat hanya diperlukan untuk menarik simpati menjelang pemilu saja !!!.
Untuk saudara sebangsaku.... berfikir kritis adalah kunci menyikapi hiruk pikuk dagelan politik yang kita saksikan belakangan ini. Jangan pernah mengambil keputusan hanya karena mendengar tokoh berkomentar tentang sesuatu hal yang belum tentu benar. Banyak-banyak membaca referensi agar wawasan kita tidak dipersempit oleh para tokoh partai yang punya kepentingan pribadi dan golongan.
Peace man

0 comments:

Posting Komentar

Write your comment here