Belajar sepanjang hayat

Belajar dan berbagilah !, Sesungguhnya berbagi ilmu itu indah...

Jangan biarkan waktu mengalahkan anda..

Manfaatkan dengan belajar dan berbagi ilmu

Ilmu pengetahuan akan menuntun ke arah yang benar

Orang tanpa ilmu ibarat orang buta yang berjalan dalam kegelapan, tanpa arah dan tanpa penuntun..

Belajar Sepanjang Hayat

Indahnya dunia hanya dapat dinikmati oleh mereka yang berakal.

Minggu, Oktober 25, 2015

Meninjau Kriteria inklusi dan eksklusi dalam pengambilan sampel untuk penelitian.

Menentukan kriteria inklusi dan atau ekslusi dalam penelitian seringkali menjadi permasalahan tersendiri, terutama bagi para mahasiswa yang sedang menyiapkan skripsi. Tidak sedikit mahasiswa hanya mengikuti skripsi yang sudah ada (dalam hal menentukan kriteria inklusi/ekslusi) tanpa memahami dasarnya. Jika anda termasuk orang yang belum memahami kriteria inklusi / ekslusi, silahkan melanjutkan membaca artikel ini.

Kebingungan mengenai kriteria inklusi dan ekslusi?

Banyak yang berusaha membuat definisi tentang kriteria inklusi ini. Namun sayangnya masih sering terdapat ambigu dalam definisi tersebut. Sebagai contoh, berikut ini adalah definisi kriteria inklusi yang diambil dari http://kamuskesehatan.com/arti/kriteria-inklusi/

“Kriteria inklusi adalah kriteria atau standar yang ditetapkan sebelum penelitian atau penelaahan dilakukan. Kriteria inklusi digunakan untuk menentukan apakah seseorang dapat berpartisipasi dalam studi penelitian atau apakah penelitian individu dapat dimasukkan dalam penelaahan sistematis. Kriteria inklusi meliputi jenis kelamin, usia, jenis penyakit yang diobati, pengobatan sebelumnya, dan kondisi medis lainnya. Kriteria inklusi membantu mengidentifikasi peserta yang sesuai.”

 
Sumber yang sama juga mendefinisikan kriteria ekslusi sbb:

Kriteria eksklusi atau kriteria pengecualian adalah kriteria atau standar yang ditetapkan sebelum penelitian atau penelaahan. Kriteria eksklusi digunakan untuk menentukan apakah seseorang harus berpartisipasi dalam studi penelitian atau apakah penelitian individu harus dikecualikan dalam tinjauan sistematis. Kriteria eksklusi meliputi usia, perawatan sebelumnya, dan kondisi medis lainnya. Kriteria membantu mengidentifikasi peserta yang sesuai. (http://kamuskesehatan.com/arti/kriteria-eksklusi/)


Jika ditelaah dari kedua definisi diatas, maka dapat dilihat bahwa 'usia' masuk dalam kedua definisi.   Hal ini akan membuat kebingungan para mahasiswa yang sedang mempelajari hal ini.
Beberapa mahasiswa datang dengan bangga dan mengatakan “saya sudah selesai membuat kriteria inklusi dan ekslusi pak, tapi saya masih belum faham mengapa mesti ada kriteria inklusi dan ekslusi tersebut ?
Ketika saya melihat tulisan mahasiswa tersebut saya menemukan sbb:
Kriteria inklusi :
1. Pasien berjenis kelamin laki-laki
2. Pasien berusia > 50 tahun
3. Tidak ada gangguan komunikasi
4. Tidak ada gangguan kejiwaan
5. Bersedia diteliti
Kriteria ekslusi
1. Pasien berjenis kelamin perempuan
2. Pasien berusia <= 50 tahun
3. Terdapat gangguan komunikasi
4. Terdapat gangguan kejiwaan
5. Tidak bersedia diteliti

Saya mengatakan kepada mahasiswa tersebut :
“Tulisan anda ini sangat bagus pada situasi dimana anda sedang belajar membuat kalimat pengingkaran (negasi). Sayangnya, yang anda buat ini adalah karya tulis ilmiah, bukan pelajaran bahasa Indonesia untuk anak SD”
Saya lanjutkan dengan pertanyaan “siapa yang mengajari anda membuat kriteria seperti ini ?”. Mahasiswa tersebut menjawab “Saya melihat contoh skripsi yang ada di internet, pak !”.
Nah disinilah kuncinya. Bahwa informasi yang ada di internet tidak semuanya benar dan terpercaya. Terlalu banyak sumber-sumber yang tidak jelas keabsahannya dan terlalu banyak individu yang melakukan copy-paste di blognya. Jika secara kebetulan anda mendapatkan sumber yang tidak jelas, seperti dalam kasus mahasiswa di atas, maka anda akan tersesat. Oleh karenanya hati-hati dalam mengambil informasi dari internet.
Kembali ke permasalahan kriteria inklusi dan ekslusi. Contoh di atas menunjukkan bahwa mahasiswa memahami kedua kriteria tersebut adalah kebalikan, artinya kriteria inklusi tersebut adalah kebalikan dari kriteria ekslusi. Padahal kenyataannya tidaklah demikian.
Mitos lain (pemahaman yang keliru)  mengenai kriteria inklusi adalah “bahwa semua penelitian harus mencantumkan kriteria ekslusi dan inklusi”. Pemikiran ini juga tidak valid. Silahkan baca terus artikel ini untuk mengungkap kebenaran dibalik kriteria ini.

Jadi, apa sebenarnya kriteria inklusi dan ekslusi itu?

Kriteria inklusi bukan kebalikan dari kriteria eksklusi. Posisinya tidak sejajar. Pada penelitian yang memerlukan kriteria inklusi dan ekslusi, sampel diambil dari populasi berdasarkan kriteria inklusi terlebih dahulu. Anda dapat membayangkan kriteria inklusi ini adalah seperti 'saringan pertama' yang harus dilalui agar dapat memenuhi kriteria sampel. Selanjutnya, mereka yang berhasil melewati saringan pertama tadi (kriteria inklusi) dapat diproses lebih lanjut ke tahapan pengambilan data. Namun demikian, jika ditemukan beberapa dari mereka tidak dapat dijadikan sampel karena alasan tertentu, maka orang tersebut harus dikeluarkan (dropping) dari sampel. Alasan terntentu itulah yang menjadi kriteria Ekslusi. Artinya bahwa mereka yang lolos pada saringan pertama (kriteria inklusi) harus juga melalui saringan kedua (kriteria ekslusi) agar dapat diproses lebih lanjut. Mereka yang tidak lolos pada saringan kedua ini dikembalikan ke populasi.

Perhatikan ilustrasi gambar berikut ini


Lingkaran 1 digambarkan populasi. Untuk keperluan visualisasi karakteristik individu, maka dibuat lingkaran dengan warna dan ukuran berbeda.

Lingkaran 2 menggambarkan proses pengambilan sampel yang sedang berjalan. Dapat dilihar bahwa lingkaran yang ukurannya lebih kecil dari saringan 'inklusi' dapat memasuki lingkaran pink yang merupakan lingkaran sampel. Dua jenis bulatan dapat masuk ke dalam lingkaran sampel, sedangkan bulatan biru gelap yang besar tertinggal di lingkaran populasi karena tidak dapat melewari saringan inklusi.
Lingkaran 3 menggambarkan proses penetapan sampel telah selesai, dimana lingkaran yang bulatan paling kecil akhirnya keluar melalui 'pintu ekslusi' dan meniggalkan bulatan sedang yang ukurannya terlalu besar untuk dapat keluar dari pintu ekslusi. Bulatan yang tertinggal dalam lingkaran sampel adalah perwakilan dari sampel yang terpilih dalam penelitian ini.
Ilustrasi di atas dapat mempermudah pemahanan mengenai kriteria insklusi dan ekslusi. Jelas terlihat bahwa ilustrasi ini mematahkan argument mahasiswa tersebut. Jika dibayangkan bulatan paling besar melambangkan wanita, bulatan sedang melambangkan pria, maka jelas terlihat bahwa tidak akan ada wanita dalam lingkaran sampel. Oleh karenanya tidak akan ada wanita yang 'keluar dari pintu eklusi' karena mereka tidak pernah melewati saringan inklusi. Sehingga jika anda menetapkan 'jenis kelamin pria' sebagai syarat inklusi, maka tidak perlu lagi membuat kriteria ekslusi 'jenis kelamin selain pria' karena akan sia-sia. Tetapi kalau anda memasukkan kriteria ekslusi “tidak mau diwawancara”, maka tentu hal ini masuk akal karena bisa jadi pria masuk kriteria inklusi ternyata tidak mau diwawancarai sehingga harus dikeluarkan dari sampel.
Berdasarkan ilustrasi dan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kriteria inklusi adalah kriteria yang digunakan untuk menjamin bahwa subjek yang akan dijadikan sampel memenuhi kriteria teoritis dari sebuah penelitian. Kriteria teoritis maksudnya adalah bahwa kriteria yang digunakan adalah kriteria yang secara teoritis terkait langsung topik dan kondisi penelitian. Dengan demikian kriteria ini lebih banyak berkaitan dengan tinjauan teori yang ada.
Kriteria ekslusi adalah kriteria yang digunakan untuk mengeluarkan subjek penelitian dari sampel karena adanya karakteristik tertentu yang secara teknis dapat mengganggu penelitian yang sedang berlangsung. Karena kriteria ini lebih banyak berkisar pada teknik penelitian, maka kriterianya pun lebih banyak bersifat teknis. Inilah alasanya mengapa “Tidak bersedia diwawancara” lebih cocok dimasukkan ke dalam kriteria eklusi. Kriteria eksklusi ini seringkali digunakan untuk justifikasi pengambilan sampel tambahan atau pengganti.

Apakah semua penelitian harus mencantumkan kedua kriteria: inklusi dan eklusi ?

Penentuan kriteria sampel tidak bisa dilakukan tanpa mengetahui judul dan metode penelitiannya, terutama teknik samplingnya.
Teknik sampling adalah teknik yang digunakan untuk memilih sampel dari populasi. Secara garis besar ada dua metode sampling yaitu probability sampling,  misalnya random sampling, dan non probablity sampling, misalnya accidental sampling atau purposive sampling.
Jika sebuah penelitian dilakukan dengan simple random sampling, tentu penggunaan kriteria inklusi akan mempersempit jangkauan popolasinya. Secara philosifis, penggunaan teknik random sampling ini bertujuan memberikan peluang yang sama terhadap semua populasi, tanpa melihat karakteristik tambahan apapun sehingga konsep 'probability'-nya terjaga sempurna. Ketika anda memaksakan untuk menggunakan kriteria inklusi (dengan kata lain, anda memilih dan menentukan siapa yang boleh menjadi sampel dan siapa yang tidak boleh), maka konsep populasinya juga akan mengikuti kriteria inklusi tersebut, sehingga uji hipotesis yang dilakukan hanya valid terhadap 'populasi kecil' yang memenuhi  kriteria inklusi. Saya tegaskan disini bahwa mereka yang tidak memenuhi syarat inklusi tidak lagi bisa dipandang sebagai populasi (khusus pada penelitian yang menggunakan random sampling). Pemikiran ini didapat dari kenyataan bahwa setiap uji hipotesa akan dikembalikan kedalam populasi, atau digeneralisasi ke dalam populasi dari mana sampel diambil). Ingat bahwa sebagian besar uji parametrik mensyaratkan metode pengambilan sampel secara random (acak).
Bagaimana dengan kriteria ekslusi, apakah boleh digunakan pada penelitian dengan teknik random sampling?.
Untuk kriteria ekslusi tidak ada masalah. Anda bisa menggunakan kriteria ekslusi pada penelitian dengan pengambilan sampel secara acak. Bahkan ini dianjurkan agar peneliti dapat segera mengambil tindakan seperlunya jika ada sampel yang harus di eksklusi, misalnya dengan mengambil sampel pengganti/tambahan dari populasi yang sama.
Salah satu penelitian yang tidak membutuhkan kriteria inklusi adalah penelitian degnan pengambilan semua populasi sebagai sampel, yang dikenal dengan nama methode sensus atau total sampling.(beberapa orang menggunakan istilah sampling jenuh). Tentu anda bertanya mengapa demikian?. Hal ini karena konsep total sampling itu sendiri sudah inklusif. Tidak ada lagi persyaratan yang harus dipenuhi subjek untuk dapat dijadikan sampel. Namun demikian kriteria ekslusi akan sangat dibutuhkan pada penelitian jenis ini.

Kriteria inklusif dari judul

Perlu dipahami bahwa konsep inklusif pada sampel sering kali dimulai dari judul penelitian itu. Jika kriteria inklusif sudah tersurat pada judul maka tidak perlu lagi dimasukkan ke dalam kriteria inklusi. Sebagai contoh perhatikan judul penelitian tipikal pada Diploma III sebagai berikut:
Tingkat pengetahuan ibu hamil trimester pertama tentang tablet tambah darah di desa boongan tahun 2015.
Sebelum melanjutkan membaca paragrap berikutnya, silahkan berhenti sejenak disini dan baca lagi judul di atas. coba anda identifikasi kriteria inklusi yang tersurat pada judul tersebut !. Setidaknya ada dua hal yang inklusif dari judul tersebut.
Hal-hal inklusif pada judul tersebut adalah:
1. Ibu hamil, dan pada trimester III
2. Desa boogan.
Judul tersebut sudah cukup spesifik dan inklusif sehingga kriteria inklusif dapat ditinggalkan. Tetapi jika anda ingin membuat kriteria ekslusi anda dapat melakukannya dengan mudah.
Anda tidak perlu lagi membuat kriteria inklusi : Ibu hamil pada trimester pertama dan berdomisili di desa Boongan karena kedua hal itu sudah inklusif dari judul penelitian

Kesimpulan :

  1. Kriteria inklusi bukan lawan atau kebalikan dari kriteria ekslusi
  2. Kriteria inklusi digunakan untuk menyeleksi subjek yang memenuhi persyaratan (teoritis) tertentu untuk sebuah penelitian, sedangkan kriteria eksklusi digunakan untuk menetapkan sampel yang terpilih dengan mengeluarkan sampel yang secara teknis tidak dapat diproses lebih lanjut.
  3. Judul penelitian dapat menggambarkan kriteria inklusif yang jelas. Judul penelitian yang spesifik seringkali tidak membutuhkan kriteria inklusi yang dibuat terpisah.

Kamis, Agustus 13, 2015

Programming in C - Part 21 : Header, extern dan Fungsi Rekursif

Dalam sebuah program yang kompleks, fungsi selalu diletakkan dalam library sehingga dapat digunakan secara bersama- sama oleh beberapa bagian program. Fungsi-fungsi dapat dikumpulkan dalam suatu file tersendiri.  Untuk menggunakan fungsi yang ditulis di file lain dapat menggunakan :
  • header
  • extern
Header adalah file teks yang biasanya diberikan ekstensi .h (header) yang berisi fungsi - fungsi yang dapat digunakan oleh program yang meng-include header tersebut. Untuk menggunakan fungsi ini dilakukan dengan Menggunakan kata kunci include "namaFile.h"

Penggunaan header lebih praktis. Namun perlu diketahui bahwa header hanya boleh diinclude satu kali saja, jika tidak akan muncul pesan kesalahan pada saat kompilasi. Bila anda menuliskan fungsi dalam suatu file yang diberinama fungsi.h, maka anda dapat menggunakan semua fungsi dalam file fungsi.h tersebut dengan memanggilnya sbb :

Selasa, Agustus 04, 2015

Programming in C - Part 20: typedef

Kata kunci (keyword) typedef ini sangat sering dijumpai dalam pemrograman dalam bahas C. keyword ini digunakan untuk memberi nama baru pada tipe data tertentu, termasuk pada tipe data yang dibuat sendiri oleh user, misalnya structure. Untuk menggunakan keyword ini cukup dengan menambahkan keyword typedef di depan tipe data yang akan didefinisikan. 
 
Contoh :
typedef int BILANGAN ;
 
setelah perintah ini kita dapat menggunakan BILANGAN untuk deklarasi tipe data integer. Dengan kata lain kita mengganti nama int dengan BILANGAN.

BILANGAN i,j ;
Penggunaan typedef akan jauh lebih bermanfaat pada type data yang dibuat sendiri oleh user. SEbagai contoh, berikut ini adalah penggabunagan antara typedef dengan structure.

Programming in C - Part 19: Alokasi Memory secara Dinamis (Dynamic Memory Allocation)

Anda tentu masih ingat bahwa panjang sebuah array yang dideklarasikan harus diketahui sebelumnya.Jika tidak didefinisikan, maka program akan menampilkan pesan error pada saat kompilasi program. Sayangnya dalam banyak hal kita jarang sekali dapat mengetahui dengan pasti berapa banyak data yang akan dimasukkan ke dalam array. Bayangkan anda membuat sebuah software statistik sederhana dimana software tersebut akan menghitung jumlah dan rata-rata dari angka yang dimasukkan. Anda juga menginginkan deretan data yang dimasukkan user akan disimpan dalam sebuah array. Tentu saja anda tidak akan pernah tahu berapa banyak data yang akan dimasukkan oleh user.

Situasi seperti ini dapat diatasi dengan menggunakan teknik Dynamic Memory Allocation, dimana memory akan dialokasikan pada saat run time. Teknik ini juga akan mengurani beban pada memory stack karena data yang dimasukkan akan disimpan pada area lainnya, misalnya data segment pada memori komputer.
Untuk memahahi hal ini dapat dilihat program berikut ini

Programming in C - Part 18: Structure

Anda dapat mendeklarasikan dan menginisiasi sebuah variabel dalam bahasa C dengan menetapkan tipe datanya. Misalnya

int i = 0 ;

adalah perintah untuk mencadangkan sebuah lokasi blok memori yang diberi nama i dan akan berisi data bertipe integer, dalam hal ini diisi dengan 0.

int i[5] ;
adalah perintah yang sama dengan di atas hanya saja perintah ini mencadangkan 5 blok memori yang masing-masing blok akan diisi data bertipe integer. Anda pasti ingat bahwa perintah ini adalah untuk mendeklarasikan sebuah array bertipe integer. Dalam array tersebut anda hanya diperbolehkan menyimpan data bertipe yang sama yaitu integer. Bagaimana jika anda ingin menyimpan data tipe berbeda?.

Pada kehidupan nyata, anda pasti pernah melihat sebuah tabel yang terdiri dari beberapa kolom. Misalnya kolom pertama berisi nama, kolom kedua berisi alamat, kolom ke tiga berisi berat badan dst. Jelas bahwa kolom pertama dan kedua bertipe string (array of char) sedangkan tipe ke tiga bertipe integer, atau bisa juga double. Intinya bahwa terdapat perbedaan tipe data pada setiap kolom. Perhatikan tabel beriktu ini

Programming in C - Part 17: Fungsi, array dan pointer dalam bahasa C

Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas tentang dasar-dasar fungsi dalam bahasa C. Pada artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai fungsi termasuk metode memanggil array atau pointer sebagai parameter dan luaran dari sebuah fungsi.

Pada dasarnya ada dua cara untuk membuat parameter dalam fungsi yaitu Call by value (menggunakan nilai), dan Call by reference (menggunakan alamat dari suatu variabel dalam memori).

Call by value adalah metode memanggil suatu fungsi dengan memberikan parameter nilai (baik memberikan angka langsung atau menggunakan variabel) secara langsung. contoh dari metode ini adalah pada fungsi tampilkanHasil, dimana value yang diberikan adalah 100 dan 20.

Jumat, Juli 31, 2015

Programming in C - Part 16: Fungsi dalam bahasa C

Fungsi adalah blok perintah yang digunakan untuk melakukan pekerjaan tertentu, baik yang menghasilkan nilai balik ataupun tidak, yang diletakkan diluar prosedur utama. Blok perintah ini dapat digunakan berulang kali dengan memanggil namanya dan parameter yang dibutuhkan. Penggunaan fungsi dalam sebuah program daopat mempermudah dalam hal maintaing program sekaligus mempermudah tracking jika terdapat kesalahan.

Programming in C - Part 15: Pointer dalam bahasa C - Tambahan.

Untuk lebih memahami cara kerja pointer, perhatikan dua listing kode berikut ini :

#include <stdio.h>

int main(void)
{
/* ====================
 * List berikut ini  mendemonstrasikan penggunaan pointer of pointer
 * Cara 1 :
 */  

    int b = 14;
    int *a = NULL;
    int *c = NULL;       // satu bintang

    a = &b;
    c = a;                // tanda & dihilangkan !
    
    printf ("\nHasil dari Cara 1 :\n");

    printf("%d\t", *a);     // mencetak 14
    printf("%d ",  *c);     // mencetak 14

Minggu, Juli 19, 2015

Programming in C - Part 14: Pointer dalam bahasa C

Pointer adalah salah satu topik yang paling menarik untuk dibahas. Pointer adalah salah satu fasilitas yang hanya ada di bahasa C dan menjadi ciri dan kekuatan, sekaligus kelemahan dalam bahasa ini. Pointer memberikan fasilitas untuk mengakses secara langsung memory komputer yang merupakan 'isi perut' dari setiap program. Kemampuan ini memberikan keistimewaan yang luar biasa karena dengan mengetahui isi dalam dari sebuah program maka akan sangat mudah untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Inilah kekuatan nyata yang dimiliki bahasa C.

Dilain sisi, kemampuan ini justru dapat membahayakan terutama bagi programmer pemula. Kesalahan sedikit saja dalam mengatur akan menyebabkan kesalahan fatal yang kadang sulit dideteksi. Ini yang membuat bahasa C menjadi seperti bahasa yang sulit untuk dipelajari dan sering kali memberikan efek 'jera' bagi mereka yang sudah terbiasa mendapatkan fasilitas 'mudah' dari bahasa tingkat tinggi lain.

Programming in C - Part 13: Array multidimensi dalam bahasa C


Array multidimensi adalah array yang mengandung lebih dari satu baris data. Secara visual dapat dibayangkan array 2 dimensi adalah array yang terdiri dari baris dan kolom seperti pada sebuah tabel atau sebuah matrik.

Contoh:
Kita mempunyai data yang terdiri dari lima baris dimana masing-masing baris terdiri dari empat kolom sbb :
10,11,12,13
20,21,22,23
30,31,32,33
40,41,42,43
50,51,52,53

Tantangannya adalah bagaimana melakukan operasi aritmatika secara vertikal?. Misalnya anda diminta untuk menghitung jumlah dan rata-rata untuk kolom ke 3 ?  Bagaimana juga kalau harus menjumlahkan secara horizontal ?

Kamis, Juli 16, 2015

Programming in C - Part 12: Array (satu dimensi) dalam bahasa C

 Array adalah sekumpulan/ sederetan object yang bertipe sama. Misalnya sebuah array bertipe integer berarti sederetan data yang berjenis integer.

contoh array bertipe integer : 1 2 3 4 5 6 4 6 7 8 5 4 3 4
contoh array bertipe char    : 's' 'a' 's' 't' 'r' 'a' 'w' 'a' 'n'

Rabu, Juli 15, 2015

Programming in C - Part 11: Latihan membuat program sederhana - imposisi

Saat ini, dengan modal ilmu programming yang sudah kita bahas selama ini, kita juga bisa membuat program yang lebih 'bermanfaat'. Kali ini kita akan membuat sebuah software yang akan memberikan deretan angka berupa nomor halaman yang dapat anda copy - paste ke dalam isian pencetakan semua word processor atau print pdf sehingga jika dicetak dan hasilnya dilipat maka akan membentuk sebuah buku dengan halaman yang kontinyu. Untuk anda yang masih belum paham mengenai imposisi ini silahkan baca :
  1. Kontribusi kecil untuk mengurangi kerusakan bumi: Software Imposisi
  2. Imposisi : mengatur ulang letak halaman untuk membuat buku siap cetak dengan psutils (baca pengantarnya saja. kecuali anda tertarik menggunakan psutils)
Studi kasus yang akan kita bahas adalah sbb :

Programming in C - Part 10: Latihan membuat program sederhana - Tebak angka klasik

jika anda mengikuti pelajaran ini dari awal, maka pada saat ini seharusnya anda sudah mampu membuat beberapa program sederhana yang akan menaplikasikan semua pengetahuan sebelumnya. Pada program latihan ini kita akan membuat program game tebak angka.

Cara permainannya sederhana yaitu pengguna diminta untuk menebak sebuah angka yang sudah ditetapkan. Jika tebakan salah maka akan diberikan pesan dan dikomentari apakah pilihan angkanya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Program akan keluar bila angka yang ditebak benar.

Programming in C - Part 9: Input dan Output dalam bahasa C

Untuk dapat berinteraksi (menyediakan interface) dengan sebuah komputer maka diperlukan cara untuk untuk membuat komputer 'mendengar' perintah yang diberikan oleh operator. Untuk tahap awal ini kita hanya akan menggunakan keyboard untuk memberi perintah/memberikan input ke komputer. Sekedar untuk diketahui bahwa kita juga bisa membuat program interface berbasis grafik yang dikenal dengan istilah GUI ( Graphical User Interface ). Akan tetapi untuk keperluan belajar kita hanya akan menggunakan text-based interface ( Console ), yaitu hanya menggunakan keyboard (tidak dengan mouse) dan tampilan dalam bentuk teks biasa.

Interaksi dengan komputer ini diatur dalam Input dan Output. Standar inputnya adalah keyboard dan standar outputnya adalah Screen (layar komputer)

Input dan output terdiri dari :
  • getchar()
  • putchar()
  • gets()
  • puts()
  • scanf()
  • printf()

Sabtu, Juli 11, 2015

Programming in C - Part 8: Looping ( Pengulangan ) dalam bahasa C

Salah satu alasan penting mengapa kita membutuhkan bantuan komputer / pemrograman komputer adalah looping atau pengulangan. Kemampuan dan kemauan manusia untuk melakukan suatu perkerjaan yang sama secara berulang-ulang sangat terbatas. Bayangkan jika anda diminta untuk mengucapkan kata "belajar" sebanyak 500 kali. Apa yang akan anda rasakan? bosan ?. Bagaimana jika dimintah sebanyak 1000 kali atau bahkan ratusan ribu kali ? atau bagaimana jika anda diminta menyebutkan deret bilangan yang dimulai dari 1 dan angka berikutnya adalah jumlah dari angka sebelumnya dengan urutan penyebutan angkanya ?.. Pasti menyusahkan dan akan banyak kesalahan kan ?. Disinilah perlunya kita menggunakan loop / pengulangan karena komputer tidak pernah merasa 'bosan' dan tidak pernah menolak perintah serta kemungkinan kesalahannya yang sangat kecil...

Jumat, Juli 10, 2015

Programming in C - Part 7: Operator dalam bahasa C

Operator dalam bahasa C terbagi dalam beberapa bagian yaitu
  1. Operator Aritmatika
  2. Operator Logikal
  3. Operator Relasional
  4. Operator Assignment
  5. Operator Bitwise, dan
  6. Operator lain

 

Operator Aritmatika:

 

Operator yang digunakan dalam perhitungan aritmatika seperti penjumlahan, pengurangan dll

Operator    Penggunaan
+    Penjumlahan
-    Pengurangan
*    Perkalian
/    Pembagian
%    Menghitung sisa pembagian (modulus)
++    Penambahan kontinu
--    Pengurangan kontinu

Kamis, Juli 02, 2015

Programming in C - Part 6: Pengambilan Keputusan (percabangan) dalam bahasa C

Pengambilan keputusan adalah sesuatu yang sangat mendasar dan sangat sering dilakukan dalam bahasa pemrograman.Pengambilan keputusan atau percabangan yang dimaksudkan disini adalah ketika kita harus memilih melakukan pekerjaan A, B atau C dst. Apabila masing masing pekerjaan tersebut membutuhkan persyaratan tertentu, misalnya untuk dapat melakukan pekerjaan A,maka syarat A harus terpenuhi, atau jika syarat A tidak terpenuhi maka kita bisa memilih untuk melakukan pekerjaan lainnya. mungkin contoh yang lebih mudah adalah jika anda mengingat sistem penilaian di perguruan tinggi, dimana (syarat) jika anda mendapat nilai > 90 (tindakan berikutnya) maka anda akan mendapat nilai A, jika kurang dari 90 tapi lebih dari 80 maka akan mendapat B dst..

Jumat, Juni 19, 2015

Programming in C - Part 5: Placeholder dalam Bahasa C

Pada pembahasan sebelumnya, anda sudah mempelajari cara mencetak hasil dari sebuah program di layar monitor dengan menggunakan perintah printf. Anda juda sudah melihat contoh menampilkan isi dari suatu variabel dengan menggunakan placeholder. Masih ingat contoh dibawah ini ?

printf("Jumlah Saudara adalah %d orang \n", jumlahSaudara);
printf("Berat waktu lahir adalah : %d gram", beratDalamGram);


perintah printf mencetak semua parameter yang diberikan setelahnya, yaitu terletak di dalam kurung (), terutama yang terletak dalam tanda kutip "". Adapun yang terletak setelah tanda koma adalah nama variabel yang isinya akan ditampilkan ditempat yang ditandai dengan %d. Dalam contoh sebelumnya :

Rabu, Juni 17, 2015

Programming in C - Part 4: Variabel dalam Bahasa C

Apa itu variabel dalam bahasa C?
Variabel dalam bahasa C adalah sebuah nama yang diberikan kepada sebuah lokasi penyimpanan dalam memory yang dapat dimanipulasi.

Analogi yang akan saya gunakan untuk menjelaskan ini adalah sebagai berikut

Anda bisa membayangkan sebuah gudang penyimpanan yang besar. Anda kemudian memasukkan sebuah kotak yang didesain dengan bentuk dan ukuran tertentu sehingga hanya bisa menampung benda ukuran tertentu ke dalam gudang tersebut. Lokasi tempat meletakkan kotak tersebut kemudian ditandai dengan diberi nama, misalnya 'buah'.  Selanjutnya anda menisi kitak tersebut dengan buah 'jeruk'. Dalam kasus ini, berarti anda sudah memiliki sebuah variabel yang diberi nama 'buah' dan isi variabel tersebut adalah 'jeruk'. bayangkan bentuk desain kotak yang digunakan khusus untuk menampung buah ukuran kecil seperti jeruk. Dengan demikian tentu anda tidak bisa meletakkan buah nangka atau ikan (bukan buah) atau benda lain selain jerukatau buah buahan kecil. Untuk analogi ini, berarti tipe data adalah :tipe buah kecil, sehingga hanya bisa menampung buah kecil sepert jeruk. Jika meletakkan tipe buah /data lain akan menghasilkan kesalahan. Dalam bahasa pemrograman, ini disebut 'overflow' artinya 'melebihi daya tampung'.

Kesimpulan :

Programming in C - Part 3: Tipe Data dalam Bahasa C

Setiap data yang disimpan dalam memory komputer disimpan dengan ukuran dan cara berbeda sesuai dengan tipenya. Memahami tipe data dengan baik akan membantu kita membuat program yang lebih efisien dan mengurangi kesalahan pada saat pembuatan program.
Dalam bahasa C, ada beberapa tipe data sbb

Basic : Tipe ini adalah data numerik yaitu Integer atau bilangan bulat dan Floating, yaitu bilangan pecahan. Tipe ini yang akan paling banyak kita gunakan dalam latihan-latihan sederhana. Bahasa C memperlakukan bilangan bulat dan pecahan secara berbeda.

Senin, Juni 15, 2015

Programming in C - Part 2: Halo dunia !

Setiap orang yang mulai belajar bahasa pemrograman biasanya akan melalui tahap pertama: Hello World !. Ini yang akan kita lakukan pada sesi ini.
Pertama pastikan anda memiliki teks editor (misalnya: notepad (windows), geany, gedit(linux)) atau apapun yang biasa anda gunakan untuk membuat file teks sederhana. Saya mengasumsikan anda sudah memiliki compiler C dalam komputer anda. Jika belum silahkan digoogle dulu.

Sekarang silahkan ketik bagian program di bawah ini. Ingat, diketik !, bukan copy paste. Mengapa ?... anda akan segera tahu seiring berjalannya waktu.


/*  Halo Dunia
 *  Created By Sastrawan
 *
 *  Contoh pertama penggunaan bahasa C
 */

#include<stdio.h>

int main(int argc, char *argv[])
{
    printf("Halo dunia ! ");
    return 0 ;
}


Penjelasan:

Programming in C - Part 1 : Pengantar.

Artikel ini adalah bagian pertama dari seri belajar bahasa pemrograman C mulai dari NOL. Ada beberapa hal yang menyebabkan saya membuat artikel pemrograman dalam bahasa C.
  • Bahasa C adalah bahasa yang sudah sangat berumur. Banyak sekali bahasa yang lebih modern dan lebih mudah dipelajari sekarang ini. Tetapi perlu diingat bahwa kebanyakan dari bahasa modern itu justru dikembangkan dalam bahasa C dan tumbuh dengan dasar bahasa C. Jadi alangkah baiknya kalau kita juga dapat menguasai 'isi dalam' dari sebuah program. 

Minggu, Juni 07, 2015

Kontribusi kecil untuk mengurangi kerusakan bumi: Software Imposisi

Apa dan Mengapa ?

Menyelamatkan planet ini tidak harus dengan sesuatu yang besar dan masive. Satu langkah kecil yang dimulai dari diri sendiri akan sangat significant. Ide sederhana ini adalah contoh nyata yang dapat digunakan oleh semua orang.


Sebagai seorang yang bekerja di dunia kampus dan bekerja dengan kertas setiap harinya, saya melihat banyak hal yang dapat dilakukan - untuk menyelematkan dunia - hanya dengan mengurangi penggunaan kertas.Contoh kecil adalah tugas-tugas yang dibuat mahasiswa biasanya hanya memanfaatkan satu sisi kertas saja. Bayangkan kalau 1 tugas membutuhkan kertas sebanyak 10 halaman, maka jika ada 100 mahasiswa akan menjadi 1000 lembar kertas, diluar sampul dan penjilidan. Bagaimana jika ada 3 tugas dalam satu semester dari 1 dosen?. Bagaimana jika ada tiga dosen dalam satu mata kuliah?. Bagaimana jika ada 6 Mata kuliah dalam satu semester?. Bagaimana dengan draft Karya Tulis Ilmiah (KTI/Skripsi) yang dibuat hanya untuk dicoret-coret lalu dibuang? Berapa kali seorang mahasiswa harus mencetak ulang Skripsinya hanya uintuk konsultasi? Silahkan dihitung sendiri!.